Langsung ke konten utama

Undangan Terbuka : Menerbitkan Ide Segar dalam sebuah buku Antologi Esai Guru secara Indie Publishing

(Hari H : 17 Mei 2011) Undangan Terbuka Untuk Guru dan Pemerhati Pendidikan : Menerbitkan Ide-Ide Segarnya dalam sebuah buku Antologi Esai Guru secara Indie Publishing. IGI (Ikatan Guru Indonesia) Semarang mempersembahkan untuk anda, sebuah media pertemuan dan pematangan, dalam bentuk pelatihan terpadu dan berfollow-up, untuk mereka yang telah menulis ataupun baru saja menulis.  Acaranya diberi tajuk : Guru Menulis, Guru Go Blog, dan Guru Menerbitkan Buku. Pelatihan ini , terbuka bagi siapa saja, khususnya :
  1. Bagi anda yang memiliki ide dan pemikiran tentang kondisi pendidikan di Indonesia, dalam bentuk tulisan yang sudah jadi, atau telah pula menuliskannya dalam bentuk artikel/esai atau tulisan kreatif lainnya. Baik di buku harian pribadi, media komunitas, blog pribadi, website, ataupun media massa.
  2. Bagi anda yang memiliki ide dan pemikiran, masih  dalam bentuk 'mindmap' atau kerangka atau pokok-pokok pikiran, dalam konteks peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia.
  3. Bagi anda yang telah menyusun draft buku dengan tema apa saja, dan sedang mencari informasi bagaimana caranya menerbitkan buku itu.
  4. Bagi anda yang ingin mendalami seluk beluk penerbitan buku secara indie (self) publishing atauPOD (Print on Demand)
  5. Bagi anda yang ingin mengelola blog agar lebih powerfull dan menginspirasi.
(note : tema pendidikan di Indonesia bisa meliputi : filosofi pendidikan, sistem pendidikan , metode belajar yang menyenangkan, kritik pendidikan, pengembangan guru, dan sebagainya). Maka, acara ini kami rekomendasikan untuk anda hadiri. Sebab :,
  1. Kami akan memilih 5-10 ide/tulisan terbaik dari peserta dan digabung dengan idetulisan dari pegiat IGI Semarang, untuk diterbitkan menjadi buku dengan metode indie publishing. Peserta akan diberi waktu maksimal 1 bulan untuk menyelesaikan idenya menjadi bentuk tulisan esai/ilmiah populer. Dan 1 bulan kemudian untuk editing, layout, covering, endorsement, dan pencetakan. Seluruh peserta yang hadir akan mendapatkan buku ini secara cuma-cuma.
  2. Kami menyediakan diri berperan sebagai konsultan untuk draft/naskah buku pribadi para peserta. Karena itu, sebaiknya hardcopy dan softfile draft buku tersebut sebaiknya di bawa.
Untuk memperkuat wawasan, kami menghadirkan narasumber, diantaranya :
  1. Sawali Tuhusetya. Seorang guru dan blogger senior, penulis produktif, dan jawara berbagai kompetisi blog guru.
  2. Diah Irawati. Redaktur "Suara Guru harian Suara Merdeka,  untuk membahas kekuatan sebuah tulisan dalam sudut pandang pekerja media, berikut tips-tips menulis ilmiah populer atau creative writing.
  3. Estu Pitarto. Ketua IGI Semarang. Guru dan Penulis. Sharing tentang metode menulis dengan mengelaborasi kekuatan Otak Kanan.
  4. Doni Riadi. Guru, blogger, editor, pegiat Komunitas Wedangjae (Wacana & Analisis Jurnalisme Empatik) dan praktisi Indie Publishing. Sharing tentang pengalaman ber-indie Publishing.
Catat tanggalnya : Hari/Tgl : Selasa, 17 Mei 2011 Jam : 09.00 WIB -1 5.00 WIB (on time, bung!) ^_^ Tempat : SDN Taman Pekunden. Jl Taman Pekunden, Semarang Investment Fee : Rp 100.000,- c.p : Estu Pitarto 024-70415554. https://www.igisemarang.wordpress.com/

Komentar

Populer

Milestone Wedangjae Online

Assalamu'alaikum Wr.Wb,

Ini adalah sebuah milestone atau sebuah tonggak baru atau Nol Kilometer bagi Komunitas Wedangjae online. Setelah didirikan tahun 2002 dan memiliki web untuk pertama kali tahun 2003 di Geocities (free) menggunakan Dreamweaver, Flash, dan Frontpage, hingga mengalami pasang surut dengan web berbasis CMS berdomain dotcom (2006-2010) dan dotnet (2010-2017), kini Wedangjae hadir kembali dalam bentuk yang lebih praktis, menggunakan blog engine sebagai 'angkringan'-nya.

Sebagian tulisan adalah arsip digital para pegiatnya atau kegiatan yang pernah dilakukan Wedangjae, sehingga tanggal posting sebelum Maret 2018. Sebagian yang lain adalah karya terbaru di awal-awal tahun 2018. Semoga bermanfaat.

Wassalamualaikum Wr.Wb.


Tren Pendidikan Era Milenial

Zaman berubah. Era milenial namanya. Generasinya ditandai oleh peningkatan penggunaan dan keakraban dengan komunikasi dan media teknologi digital. Gawai di tangan. Pengetahuan mudah di dapat, ruang obrolan bertambah luas, tanpa sekat dan tanpa batas. Inilah kompetitor guru saat ini. Kompetitor yang sangat serius. Selalu meng-update diri, dengan sangat pesat. Mari kita proyeksikan pendidikan di masa depan, berdasarkan fenomena kekinian. Karena generasi yang dididik hari ini akan hidup di masa depan.Sesuatu yang relevan di hari ini, mungkin akan usang di masa depan. Bisa jadi, bila hari ini sekolah keliru ajar. Lahirlah generasi pengekor, bukan ‘pemimpin barisan’.
Berdasarkan data Indonesia Digital Landscape 2018, yang dirilis pada bulan Januari 2018, dari total Populasi penduduk yang 265 juta jiwa, pemilik Unique Mobile User adalah 178 juta jiwa (67 %), Internet Users 132,7 Juta Jiwa (50 %) dan Active Social Media Users 130 juta jiwa (49 %). Dan dari pengguna internet itu, 91 %adalah pen…

Urgensi Wakafprenuer Menuju Masyarakat Wakaf

Wakafprenuer adalah istilah anyar bagi pegiat wakaf produktif. Seperti dalam tulisan sebelumnya di Seruji Penulis menguraikan 3 langkah memajukan wakaf yakni literasi, kreasi dan konversi. Idealnya seluruh ketiga tahapan tersebut diperlukan para wakafprenuer sehingga membentuk sebuah ekosistem. Tahap literasi sebagai langkah awal merupakan upaya memberikan kesadaran pentingnya berwakaf kepada publik. Para wakafprenuer ditantang menciptakan berbagai program literasi yang ramah terhadap publik (user friendly). Target literasi utama menyasar kepada kalangan millenials atau generasi muda “kids jaman now”. Jumlah mereka ini luar biasa karena Indonesia mengalami bonus demografi. Selain itu pemahaman ideologis generasi ini masih dalam proses pencarian sehingga sangat potensial dan strategis. Karena generasi muda ini mayoritas menggunakan telepon pintar maka dibutuhkan aplikasi menarik yang terkait permainan atau game perwakafan. Generasi millenials yang dijangkiti budaya FoMo (Fears of Miss…